Integrated Pest Management Collaborative Research Support Program (IPM CRSP), yang didanai oleh USAID, merupakan konsorsium kerjasama internasional antara universitas di AS dengan universitas atau lembaga penelitian di negara berkembang dalam bidang pengelolaan hama terpadu (PHT). Kenggotaan IPB dalam konsorsium tersebut telah berlangsung selama 5 tahun, dan kini memasuki tahapan 5-tahun kedua. Universitas di AS yang menjadi mitra IPB adalah Clemson University dan Virginia Tech., serta secara tidak langsung Washington State University dan Ohio State University.

Tujuan utama dari kerjasama ini adalah pengembangan dan penerapan pengelolaan hama terpadu (PHT) pada pertanaman sayuran. “Penggunaan pestisida pada pertanaman sayuran sangatlah tinggi. Oleh karena itu, bagaimana agar petani dapat mengurangi ketergantungan pada pestisida dalam mengendalikan hama dan penyakit“ kata koordinator kerjasama Prof Dr. Ir. Aunu Rauf, M.Sc. Kegiatan kerjasama meliputi penelitian pengembangan agens hayati serta pelatihan perbanyakannya kepada petani.

Sebagai bagian dari kerjasama tersebut telah dilakukan tiga workshop berurutan selama minggu ke-3 bulan Juli 2010. Yang pertama adalah Annual Project Workshop yang berlangsung pada 21-22 Juli, bertempat di Hotel Lembah Hijau, Ciloto-Cianjur. Wakil Rektor IPB Bidang Bisnis dan Komunikasi, Dr. Ir. Arif Imam Suroso, M.Sc. CS, dalam sambutannya menyampaikan bahwa ketahanan pangan sangat penting bagi terciptanya ekonomi yang kuat dan masyarakat yang sehat, dan PHT merupakan unsur kunci bagi tersedianya pangan yang berkecukupan dan aman terhadap kesehatan.

Workshop diikuti oleh lebih dari 50 peserta. Tamu dari universitas AS yang hadir adalah Dr. Mike Hammig, Dr. Merle Shepard, Dr. Gerry Carner, dan Dr. Eric Benson dari Clemson University; serta Dr. R. Muniappan dan Dr. Maria Elisa Christie dari Virginia Tech. Juga hadir Dr. Sanath Reddy dari USAID-Jakarta. Sebagai keynote speaker adalah Dr. Russell Dilts, penggagas sekolah lapang, yang menyampaikan presentasi berjudul Farmer Field School in Southeast Asia. Dalam workshop ini, setiap anggota konsorsium menyajikan berbagai hasil kegiatan yang telah dicapai dalam 5 tahun terakhir, dan rencana kegiatan selanjutnya dalam 5 tahun ke depan hingga 2014. Selain keberhasilan perbanyakan agens hayati oleh petani binaan IPB dan penerapannya pada PHT sayuran, kegiatan lain dari IPB yang mendapat apresiasi adalah program IPM Goes To School. “Ini merupakan kegiatan pioner yang belum pernah dilaksanakan di tempat lain“ ungkap Dr. Muniappan, Director of IPM CRSP. Kegiatan yang dikordinasikan oleh Dr. Nina Maryana ini bertujuan memberi pemahaman sedini mungkin kepada generasi muda (anak sekolah) tentang bahaya pestisida terhadap lingkungan dan kesehatan serta pentingnya PHT sebagai pendekatan pengelolaan hama berbasis ekologi.

Setelah mengikuti workshop di Ciloto, peserta yang tergolong ke dalam tim gender kemudian melakukan diskusi dengan kelompok wanita tani di Desa Sindang Jaya, Kecamatan Cipanas, Kabupaten Cianjur. Selesai diskusi, tim lalu melanjutkan perjalanan ke Bogor untuk berpartisipasi dalam Gender and Participatory Methodologies Workshop. Workshop ini berlangsug sehari penuh pada tanggal 22 Juli di Ruang Sidang II Departemen Proteksi Tanaman. Workshop diikuti oleh 23 peserta, sebagian besar adalah dosen IPB. Bertindak sebagai fasilitator dalam workshop ini adalah Dr. Maria Elisa Christie, Program Director of Women in International Development, Virginia Tech.

Pada saat yang bersamaan yaitu 22-23 Juli, di Ruang Sidang I dan Laboratorium Pendidikan Departemen Proteksi Tanaman juga berlangsung Plant Disease and Insect Pathogen Diagnostic Workshop. Pada saat perjalanan dari Ciloto menuju Bogor, para peserta berhenti di lahan petani untuk mengumpulkan contoh tanaman dan hama yang terinfeksi penyakit sebagai bahan pelatihan diagnosis. Instruktur dalam workshop ini di antaranya adalah Dr. Fulya Baysal Gurel dari Plant Clinic, Ohio State University, serta Dr. Gerry Carner dari Clemson University. Workshop diikuti 18 peserta yang berasal dari UPLB (Filipina), Departemen Pertanian Kamboja, Unsrat, Instalasi POPT Bukittinggi, Instalasi POPT Cianjur, BBPOPT Jatisari, dan Farmers’ Initiatives for Ecological Livelihood and Democracy (FIELD).

Selain mengikuti workshop, rombongan dari Clemson University dan Virginia Tech. juga berkesempatan mengunjungi Posyanti Pada Jaya, salah satu pos pelayanan agens hayati binaan IPB. Kegiatan unggulan dari Posyanti ini adalah perbanyakan cendawan Trichoderma harzianum untuk pengendalian penyakit tanaman. Posyanti yang dikomandani oleh Pak Ujang Dayat, ketua Kelompok Tani Pada Jaya, ini bahkan telah menjalin kerjasama dengan perusahaan swasta dalam pengemasan, pelabelan, dan pemasaran Trichoderma. Keberhasilan ini tidak lepas dari pelatihan yang diberikan tiga tahun sebelumnya oleh Prof Dr. Ir. Meity S. Sinaga, M.Sc. Kini Posyanti Pada Jaya sedang merintis perbanyakan Pseudomonas flourescens dan Bacillus subtilis, dua jenis bakteri pemicu pertumbuhan tanaman, setelah mendapatkan pelatihan dari Dr. Ir. Asih Nawangsih, M.Si. Karena pertimbangan bahwa Kelompok Tani Pada Jaya responsif dan inovatif, maka IPB telah mendukung aktifitasnya dengan menyediakan berbagai sarana seperti kotak inokulasi, kompor dan tabung gas, peralatan sterilisasi, mesin penggiling jagung, dan rumah kompos. Selain berkunjung ke Posyanti Pada Jaya, rombongan juga berkesempatan mengunjungi petak-petak penelitian PHT serta Sekolah Lapangan Pengendalian Hama Terpadu (SLPHT) kentang di Desa Cipendawa-Cianjur.

Masih dalam payung kerjasama IPM CRSP, pada tanggal 12-16 Juli 2010 dua staf pengajar Departemen Proteksi Tanaman (Dr. Sri Hendrastuti dan Dr. Tri Asmira Damayanti) telah mengikuti International Plant Virus Disease Workshop di Tamil Nadu Agricultural University, Coimbatore, India. Pelaksanaan workshop itu sendiri dibiayai oleh Washington State University, sedangkan keikutsertaan dua dosen IPB dalam workshop ini atas dukungan dana dari Clemson University.

Untuk ekspor nonmigas Indonesia ke Korea Selatan pada tahun 2008 tercatat sebesar US$ 4,46 miliar, naik sebesar 9,9% pada tahun 2009 menjadi US$ 5,17 miliar. Sedangkan impor Indonesia dari Korea Selatan pada tahun 2008 tercatat sebesar US$ 4,79 miliar, turun sebesar 26% pada tahun 2009 menjadi US$ 3,81 miliar. Ekspor produk makanan olahan Indonesia ke dunia selama 5 tahun terakhir (2005]2009) selalu mengalami peningkatan. Tahun 2005 sebesar US$ 1,6 miliar, tahun 2006 meningkat menjadi US$ 1,8 miliar, tahun 2007 meningkat lagi menjadi US$ 2 miliar, tahun 2008 meningkat menjadi US$ 2,7 miliar, dan tahun 2009 meningkat lagi menjadi US$ 2,8 miliar. Sedangkan tren 2005-2009 adalah 16,13%. Ekspor produk makanan olahan Indonesia ke dunia dan Indonesia ke Korea pada tahun 2009 yaitu US$ 183 juta dan US$ 3 juta, pangsa pasar ekspor Indonesia ke Korea sebesar 1,8% berada di urutan ke-18.

Ekspor pertanian olahan yang diminati Korea Selatan dari Indonesia adalah seperti vegetables oil, produk buah-buahan olahan dari: Mango, pineapple, guava, star fruits, etc, coffee, Chocolate dan sebagainya. GDP untuk industri makanan untuk Korea Selatan sebesar 4%. Konsumsi untuk produk makanan olahan Korea Selatan seperti: Wheat Flour, Sugar, Soda, Juice, Tea, Instant Noodle (Ramyeon), processed grain, Kimchi, Soy oil, Bread, Tofu, Coffee dan sebagainya. Berdasarkan data statistik untuk jumlah Coffee Shops di Korea Selatan 31.949 buah dan jumlah restaurant sebayak 600.233 buah. Berdasarkan data ini bahwa peluang produk pertanian olahan dan produk rempah sangat tebuka peluang pasarnya, sehingga perlunya promosi yang lebih rutin dan kerjasama bilateral yang berkelanjutan antara Indonesia dan Korea Selatan.

Sebagai salah satu contoh bahwa pada tahun 2006 total ekspor kopi ke Korea mencapai US$ 1,3 juta, meningkat menjadi US$ 1,6 juta di tahun 2007, meningkat kembali US$ 1,7 juta pada tahun 2008. Pada akhir bulan Agustus 2009 ekspor kopi Indonesia ke Korea menembus US$ 2,2 juta. Indonesia telah banyak melakukan beberapa agenda promosi ke Korea Selatan seperti Pameran Hotel & Food Expo dan event lainnya, dengan melihat peluang potensi pasar ini sangat significant untuk meningkatkan peluang pasar ke Korea Selatan lebih baik lagi.

Implementasi Sistem PVT di Indonesia mendapat respon yang cukup baik dari masyarakat Indonesia secara luas, terbukti semakin banyak Permohonan Hak PVT dan Pendaftaran Varietas Tanaman yang diajukan ke Kantor Pusat PVT. Di dunia pemuliaan tanaman, sistem PVT diharapkan mampu mendorong kegiatan perakitan varietas unggul baru karena sistem PVT memberikan insentif bagi para pemulia atas hasil kerja kerasnya. Sistem PVT juga diharapkan memberikan keuntungan bagi para petani karena pada akhirnya petani akan dapat menggunakan varietas yang terjamin keunggulannya. Setelah 10 tahun kelahirannya, UU No. 29 tahun 2000 tentang PVT telah dikenal luas oleh masyarakat terutama di dunia perakitan varietas tanaman. Pusat PVT sebagai instansi pengelola sistem PVT memerlukan informasi timbal balik dari para pemangku kepentingan terutama para pengguna sistem ini. Masukan dan saran terutama diperlukan dari para pemulia sebagai ‘prime beneficiaries’ atau penerima manfaat utama, juga dari kalangan petani sebagai pengguna benih varietas yang dihasilkan oleh para pemulia. Dengan informasi ini diharapkan pelayanan PVT akan semakin baik dan memuaskan para pengguna. Bertempat di Ruang Nusantara I Gedung E Kementerian Pertanian, dilaksanakan kegiatan Round Table Discussion dengan tema “Review Sistem PVT Indonesia setelah 10 tahun berlakunya UU No. 29 tahun 2000 tentang PVT”. Acara yang dibuka oleh Sekretaris Jenderal Kementerian Pertanian ini diselenggarakan pada tanggal 7 Juli 2010 dan diikuti oleh ± 100 orang peserta yang berasal dari Kementerian Pertanian, Kementerian Kehutanan, Kementerian Lingkungan Hidup, Ditjen HKI, Komisi PVT, Komisi Banding PVT, PERIPI, Perguruan Tinggi, Asosiasi benih, Asosiasi petani, MPPI, dan HKTI. Pembicara pada acara tersebut merupakan perwakilan dari para stakeholders diantaranya perwakilan dari petani, pengusaha, akademisi, dan PERIPI. Selain itu juga hadir pembicara dari Jepang dan Belanda, yang mempresentasikan pengalaman-pengalaman dalam menerapkan sistem PVT di negaranya. Pada acara pembukaan dilaksanakan penyerahan sertifikat Hak PVT dan Sertifikat Pendaftaran Varietas Hasil Pemuliaan. Sertifikat Hak PVT diserahkan kepada PT. Toba Pulp Lestari untuk tanaman Ekaliptus varietas IND 61, juga diserahkan kepada Pusat Penelitian Tanaman Kopi dan Kakao Indonesia untuk tanaman Kakao varietas ICCRI 03 dan ICCRI 04. Sedangkan Sertifikat Pendaftaran Varietas Hasil Pemuliaan diserahkan kepada Balai Penelitian Tanaman Jeruk dan Buah Subtropik untuk tanaman Jeruk Keprok varietas Batu 55. Dari hasil diskusi diketahui bahwa ada beberapa hal dalam UU NO. 29 yang perlu direvisi, terutama hal-hal yang menyangkut tentang definisi, prosedur permohonan hak PVT dan juga pengelolaan pendaftaran varietas tanaman terutama untuk varietas lokal. Dalam diskusi juga disepakati bahwa akan dibentuk sebuah tim lintas instansi yang akan membahas revisi UU NO. 29 secara bertahap. Revisi UU ini diarahkan untuk diselaraskan dengan UPOV Convention 1991. Dari sudut pandang petani, sistem PVT masih harus terus disosialisakan kepada petani agar petani yang juga melakukan kegiatan pemuliaan tidak terjerat hukum yang berlaku. Dari sudut pandang pengusaha, jaringan internasional PVT melalui UPOV sangat diperlukan terutama jika Indonesia ingin berkompetisi di pasar global. Sedangkan dari sudut pandang akademisi, sistem PVT masih harus terus disosialisasikan agar semakin banyak inovasi-inovasi dari perguruan tinggi yang terlindungi dan memberi manfaat bagi semua pihak.

Wereng coklat (Nilaparvata lugens Stal.) merupakan salah satu hama utama padi. Pertanaman padi di lapangan yang terserang wereng coklat akan menjadi layu, kering dan pada serangan berat dapat menyebabkan puso, oleh karena itu diupayakan pengendaliannya. Beberapa cara yang dilakukan untuk mengendalikannya di antaranya dengan menggunakan VARIETAS PADI tahan wereng coklat. Pengendalian dengan menggunakan varietas tahan didasarkan pada sifat ketahanan tanaman terhadap hama yaitu preference/nonpreference (antixenosis), antibiosis dan tolerance. Untuk mendapatkan VARIETAS PADI tahan dilakukan penelitian dengan menguji atau skreening galur-galur/ VARIETAS PADI. Skreening dilakukan pada galur-galur padi dari observasi, uji daya pendahuluan (UDHP), uji daya lanjutan (UDHL), galur harapan (GH) dan galur uji multilokasi (UML) padi tipe baru dan padi rawa. Untuk lebih dapat meyakinkan sifat ketahanan, pada galur yang tahan dilakukanlah pengamatan perkembangan populasi. Beberapa galur PTB yang agak tahan wereng coklat biotipe 3sm yaitu : B11252B-Pn-3-2-1-1-2 ; B11007E-Mr-3-2-Pn-2-1 dan B10543F-Kn-17-1. Sedang galur padi rawa yang agak tahan wereng coklat biotipe 3sm yaitu : B9858D-KA-55, IR70213-9-CPA-12-UBN-2-1-3-1 dan IR70215-2-CPA-2-1-UBN-1-2 serta galur yang tahan terhadap wck biotipe 3sm dan agak tahan biotipe 2 yaitu IR70181-5-PM 1-1-2-B-1. Reaksi VARIETAS PADI di lapangan terhadap populasi wereng coklat setelah beberapa tahun dapat berubah seperti yang ditemui di Klaten semula IR 64 tahan kemudian berubah agak tahan. . Untuk mengetahui perkembangan sifat fisiologi wereng coklat terhadap varietas unggul yang dilakukanlah pengamatan terhadap daya makan dan fekunditasnya, pada varietas tahan wereng colat lebih sedikit mengisap cairan tanaman dan telur yang diletakkan juga diproduksi lebih sedikit dibanding varietas rentan.

Bakteri antagonis adalah jasad renik (microorganisme) yang mengintervensi kegiatan patogen (penyebab penyakit) pada tumbuhan. Pada dasarnya terdapat 3 mekanisme antagonis yaitu:

Hiperparasitisme : terjadi apabila organisme antagonis memparasit organisme parasit (patogen tumbuhan)
Kompetisi ruang dan hara : terjadi persaingan dalam mendapatkan ruang hidup dan hara, seperti karbohidrat, Nitrogen, ZPT dan vitamin.
Antibiosis : terjadi penghambatan atau penghancuran suatu organisme oleh senyawa metabolik yang diproduksi oleh organisme lain.
Corynebacterium/ bakteri Korin merupakan bakteri antagonis yang mempunyai bentuk elevasi cembung dengan warna coklat susu keruh.
Cara pengendalian ini seiring dengan meningkatnya kesadaran untuk menjaga lingkungan sehat, mendorong aplikasi teknologi yang ramah lingkungan bahkan mengarah pada sistem usaha tani organik.Corynebacterium sangat cocok untuk mencegah layu yang disebabkan oleh bakteri pada daun/ tanaman hortikultura, palawija maupun tanaman Padi sawah.

Perbanyakan Corynebacterium

Produksi massal menggunakan media buatan (cair) EKG/Ekstrak kentang gula
Langkah-langkah sebagai berikut:
1. Menyiapkan alat dan bahan Alat yang digunakan antara lain alat Fermentasi yang sederhana, terdiri dari aerator, KMnO4 (larutan PK), glass wool (sebagai filter), slang plastik, sambungan slang berbentuk L, botol plastik, jerigen/galon air mineral, panci, kompor,baskom, saringan plastik, corong plastik, jarum ose (jarum kawat), lilin, alkohol.
Bahan-bahan terdiri dari kentang 300 gr/1 lt air, gula pasir 20 gr/1 lt air, air (dikonversikan dengan jumlah kentang dan gula),stater (biang) Corynebacterium.

2. Pembuatan EKG

Kupas kentang, potong tipis
Rebus sampai irisan kentang memutih, kemudian saring larutan ekstrak kentang tersebut
Tambahkan gula pasir, aduk hingga larut kemudian saring kembali
Sterilkan dengan dandang selama 15 menit pada suhu 120 derajat celcius kemudian dinginkan
Masukkan larutan kedalam jerigen kemudian buka mulut botol stater, ambil koloni bakteri dengan menggunakan jarum ose kemudian masukkan/campurkan kedalam jerigen atau tambahkan 5 ml air kedalam botol stater dan lepaskan koloni bakteri dengan bantuan jarum ose. Tutup mulut jerigen rapat
Inkubasikan dengan fermenter sederhana dalam ruang bersih dengan suhu 25-27 derajat celcius sekitar 14 hari kemudian dapat digunakan.
3. Aplikasi

Siapkan larutan semprot dengan mencampurkan 5 ml larutan Corynebacterium yang sudah jadi kedalam 1 liter air.
Siapkan larutan perekat dengan mencampurkan 1 ml kedalam 100 ml air bersih, kemudian campurkan kedalam larutan 1 liter diatas
Saring dan masukkan larutan kedalam tangki semprot, kemudian tambahkan 15-16 liter air.
Semprotkan pada persemaian dan tertanaman umur 14, 28 dan 42 hst. Lebih baik apabila dilakukan perendaman benih yang siap semai selama 15 menit
Konsentrasi 5ml/liter, dengan dosis 2,5 liter formulasi Corynebacterium per ha dengan volume semprot antara 500-600 liter, kepadatan populasi bakteri minimal 10(pangkat)6 Cfu/cc
Waktu aplikasi pada sore hari, mulai pukul 15.00 WIB, hindari aplikasi siang hari untuk mencegah pengaruh sinar matahari.
(PHP)

Resurjensi merupakan salah satu masalah yang penting akibat penggunaan insektisida secara tidak bijaksana. Karena faktor-faktor yang menyebabkan terjadinya resurjensi cukup banyak maka kajian-kajian teknis strategis harus juga dilakukan secara komprehensif. Dalam kajian ini dibatasi pada kajian potensi insektisida piretroid dalam menimbulkan resurjensi pada wereng cokelat termasuk evaluasi pengaruhnya terhadap musuh alami dan reproduksi wereng cokelat. Terdapat pertanyaan yang mendasar berkaitan dengan insektisida yang diaplikasikan yaitu apakah terjadinya resurjensi karena senyawa tertentu (spesifik) atau secara keseluruhan (semua golongan bahan aktif insektisida golongan piretroid). Hal lain yang perlu dijawab adalah terjadinya resurjensi karena perkembangan serangga yang cepat akibat pengaruh fisiologi pada serangga wereng cokelat atau karena tertekannya populasi musuh alami di lapangan. Kemudian karena di lapangan berbagai komponen terlibat baik untuk pertumbuhan tanaman padi maupun serangga, maka hubungan antara pertumbuhan tanaman padi dengan serangga juga perlu dikaji sehingga tampaknya perlu melakukan pengkajian resurjensi ini dikaitkan dengan ketahanan varietas padi antara varietas tahan dan kurang tahan. Dari kajian ini diharapkan akan menjawab pertanyaan dasar apakah insektisida piretroid dapat menyebabkan resurjensi pada populasi wereng cokelat. Jika terjadi mekanisme apa yang terjadi.

Ketua Departemen Proteksi Tanaman, Fakultas Pertanian IPB, Dr. Dadang mengatakan petani butuh bantuan informasi dan fasilitas dalam menghadapi serangan hama wereng coklat (Nilaparvata lugens). Menurutnya, petani sekarang sudah lupa dengan Pemberantasan Hama Terpadu (PHT), sehingga dikhawatirkan akan terjadi puso.
 
“Kemungkinan ada pengaruh dari global warming. Namun terjadinya serangan wereng coklat merupakan resultan (hasil) dari sejumlah faktor, yakni varietas yang kurang tahan serangan hama, penggunaan pestisida yang tidak tepat, pola tanam yang salah dan masalah kelembagaan. Yang penting juga adalah masalah kelembagaan, petani di lapang itu perlu bantuan informasi dan fasilitas, ”ujarnya saat coffee morning di IPB (21/6).
 
Menurutnya, petani sedang kejar tayang sehingga lupa dengan pola penanaman padi terpadu. Dr. Dadang mengatakan, makanan utama wereng adalah padi, jika diganti dengan tanaman yang lain maka wereng tersebut pasti akan musnah.

“Maksudnya, dulu petani setelah menanam padi dilanjutkan dengan menanam kedelai atau ubi jalar atau yang lainnya. Saat ini, petani sudah melupakan itu. Pola tanam yang bagus, jarak tanam yang bagus, varietas yang tahan serangan, penggunaan pupuk yang seimbang dengan tidak terlalu banyak mengandung unsur Nitrogen (N) dapat mencegah penyebaran wereng coklat. Karena belum tentu dengan banyak N akan bagus hasilnya, padahal wereng coklat suka dengan unsur N,” jelasnya.  

Mengenai varietas, varietas hybrid yang rata-rata ketahanannya rendah, yang sudah ramai ditanam petani ternyata mengakibatkan jumlah wereng meningkat, sehingga menular ke varietas yang tahan hama. Penciptaan varietas baru tujuannya menghasilkan produktivitas yang tinggi namun mengabaikan ketahanannya terhadap hama. Selain itu, wereng coklat bisa menularkan virus penyakit kepada tanaman.

Ketika menghisap batang padi, wereng mengeluarkan virus yang membuat padi menjadi kerdil dan juga hampa. Alhasil, jika sudah terserang wereng sama artinya dengan gagal panen.

Selain itu, wereng coklat jika ditekan ternyata memiliki kemampuan yang kuat untuk melawan. Menurut beberapa peneliti, pencegahannya cukup yang moderat saja, yakni penggunaan pestisida dengan dosis tepat, jenis pestisidanya tepat, pola tanam yang benar dan ada peran pemerintah. Seperti penciptaan komunikasi yang sinergis antara petani, penyuluh dan peneliti.

“Hubungan antar petani dan kelompok tani harus dibina, mungkin jarak tanam diatur dengan sistem legowo, sehingga space antar padi agak lebar,” ujarnya.

Selain itu, cara yang lain dalam mencegah serangan wereng coklat adalah dengan menjaga kelembaban agar tetap rendah. “Wereng coklat suka dengan udara panas namun kelembabannya tinggi, dengan sistem legowo saya yakin mampu membantu mencegah wereng coklat” tegasnya.

Bogor Botanical Garden International Workshop 2010 merupakan kegiatan kolaborasi antara Institut Pertanian Bogor (Departemen Arsitektur Lanskap Fakultas Pertanian- ARL dan Pusat Pengkajian dan Perencanaan Pengembangan Wilayah – P4W LPPM IPB) dengan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (PKT Kebun Raya Bogor – LIPI) sebagai tuan rumah, beserta Bogor 100, Modern Asian Architecture Network (mAAN), komunitas Kampoeng Bogor, dan didukung oleh Hotel Salak the Heritage. Organizing committee workshop ini diketuai oleh Dr. Ir. Nurhayati H.S. Arifin, MSc. (Dep. ARL IPB), anggota panitia dari Dep. ARL IPB, Bogor 100 dan Kampoeng Bogor, dengan course coordinator Setiadi Sopandi, MArch. (mAAN). Workshop yang bertema “The Importance of Bogor Botanical Garden for the City of Bogor” ini bertujuan untuk: (1) mendukung dan meningkatkan fungsi Kebun Raya Bogor/KRB sebagai institusi konservasi tumbuhan, bagian penting dari sistem ekologi kota dan pendukung aktivitas sosial ekonomi Kota Bogor, (2) meningkatkan kesadaran warga Kota Bogor akan pentingnya KRB untuk keberlangsungan Kota Bogor, serta (3) mendukung pelestarian KRB sebagai struktur penting dan bagian yang penting dari pembentukan Kota Bogor melalui penyediaan dan penataan fasilitas serta program yang sesuai.

Penyelenggaraan workshop dari tanggal 3 hingga 10 Juli 2010 dan sepenuhnya diadakan di dalam KRB. Peserta workshop 29 orang dengan latar belakang lulusan S1 dan S2 dari disiplin ilmu arsitektur, desain kota dan arsitektur lanskap, dimana 20 orang dari Indonesia (IPB, KRB, Institut Teknologi Bandung, Universitas Pelita Harapan, Universitas Kristen Petra, Umum), 5 dari Malaysia (University of Malaya-UM), 4 dari Singapura (National University of Singapore-NUS), dan 1 dari Australia, serta 10 peserta tambahan yang merangkap sebagai volunteer (mahasiswa S1 semester akhir ARL dan dari Kampoeng Bogor). Kegiatan workshop selama 7 hari ini dilakukan di dalam dan luar ruangan, berupa perkuliahan/pembekalan, survey (KRB, Kota Bogor) dan pengumpulan data, analisis dan diskusi kelompok, mendisain proposal, dan presentasi akhir.

Materi kuliah yang diberikan terkait dengan nilai penting aspek kesejarahan, sejarah dan aspek konservasi kebun raya, perkembangan dan pembangunan Kota Bogor, pemanfaatan adaptif struktur bersejarah, dan metode survey. Pemberi materi kuliah yaitu Prof. Johannes Widodo (mAAN), Prof. Lai Chee Kien ( NUS), Prof. Kuswata Kartawinata (KRB), Dr. Deddy Darnaedi (KRB), Dr. Ernan Rustiadi (P4W LPPM IPB), Dr. Siti Nurisyah (ARL IPB), Moh. Azrin, MS (Bappeda Kota Bogor), Setiadi Sopandi, MArch (mAAN), dan Prof. Yahaya Ahmad (UM). Peserta dibagi dalam 6 kelompok dan dalam melakukan kerja kelompok didampingi oleh seorang unit master yang terdiri dari: Prof. Lai Chee Kien (NUS), Prof. Yahaya Ahmad (UM), Prof. Widjaya Martokusumo (ITB), Dr. Jusna Amin (Usakti), Adi Purnomo (praktisi), Avianti Armand (praktisi), dan Rahman A. Wijaya (praktisi).

Pada presentasi akhir yang diadakan di gedung tua ex-Laboratorium Treub KRB, ke-6 kelompok memaparkan proposalnya di depan forum undangan. Keenam kelompok mengajukan konsep dan pendekatan yang inovatif dan beragam, dengan tingkat cakupan dari skala makro hingga mikro/detail. Keenam konsep tersebut yaitu: Urban (Bio)Diversity Approach in Celebrating The Bogor Botanical Garden yang mengajukan program interpretasi di KRB; Buitenzorg: I (don’t) care Bogor, yang berpijak dari masalah ketersediaan sumber daya air di perkotaan dan peluang KRB untuk mendukung pemecahan masalah; Si Geulis yang melihat kaitan KRB dengan Jakarta dan menjadikan Pulo Geulis sebagai studi kasus untuk proposal desain dengan pendekatan aliran air Sungai Ciliwung untuk konservasi, edukasi dan rekreasi; Wall/fence as Potential Connector Between the Bogor Botanical Garden and the City dengan pendekatan konflik sosial di seputar KRB dan mengajukan desain aplikatif melalui pembagian 5 distrik berdasarkan kondisi lingkungan sekitar KRB; Enhance-Enjoy-Experience yang mengolah rute Stasiun Bogor-pintu utama KRB menjadi jalur pedestrian yang dapat mengakomodir turis, PKL, dan angkot; dan Tropical Plant Conservation Park yang mengajukan design guidelines dan buffer zone yang mendukung keberlangsungan nilai penting core zone yaitu KRB. Acara presentasi ditutup dengan sesi tanya jawab dan komentar, penyerahan sertifikat, serta kesan-kesan dari para peserta. Penutupan workshop diakhiri dengan farewell lunch di Hotel Salak the Heritage Bogor.

sensa weight loss

dikasih blog dari kampus then tinggal dimanfaatin nehh, so belom bisa ngapa-ngapain jadinya…  :)

  • T-Mobile is raising its throttling threshold to a massive 50GB 19 September 2017
    T-Mobile just published a blog post announcing changes to its Unlimited plan, and for once, they're actually good. The prioritization threshold -- the amount of data you can use each month before being potentially throttled -- is being raised from 32GB to 50GB. That's double the limit Verizon and AT&T enforce on their customers, and […]
    Chris Mills
  • Logitech Harmony’s remote and Hub bundle is just $79 in this Amazon sale 19 September 2017
    Logitech Harmony makes the best universal remotes in the world. In fact, some might say the only thing better than a Logitech Harmony remote is the Logitech Harmony Hub, which lets you control all your devices from your iPhone or Android device. Well, now you can get the best of both world's at a big […]
    Maren Estrada
  • Nerf guns are dangerous again, according to doctors who hate fun 19 September 2017
    Unlike many toy fads that come and go, Nerf guns have withstood the test of time. Whether it's the bright colors and comically oversized darts, rockets, and "bullets," they fire, or simply mankind's self-destructive nature, kids have loved the quirky plastic firearms for decades. Now, doctors in London are warning that Nerf guns are actually […]
    Mike Wehner
  • Time to update your iPhone and iPad: iOS 11 has been released 19 September 2017
    Apple has three big launch days coming up and today is the first one. That's right, Apple has just released its hotly anticipated iOS 11 software to the public. iOS 11 has been available to developers and people in Apple's open public beta program since June, but Tuesday marks the first day that it's available […]
    Zach Epstein
  • A pro photographer took 2,000+ pictures to test the iPhone 8 Plus camera 19 September 2017
    One of the iPhone 8 and iPhone 8 Plus reviews you should read before deciding whether the iPhone X is worth the wait was focused solely on the camera features of the phone. The iPhone has always been one of the most popular cameras around, and Apple has improved camera performance year after year. The […]
    Chris Smith
  • The new Nest Cam IQ is like nothing you’ve seen before, and it’s already discounted on Amazon 19 September 2017
    Everything about Nest’s new $300 Nest Cam IQ is awesome… except for that $300 price tag. It has a class-leading 4K sensor which is unheard of on a widely available home security camera, and it uses all that resolution in a brilliant way. The video it streams is actually 1080p (who needs 4K?) but the […]
    Maren Estrada
  • How to speed up your iPhone after iOS 11 slows it down 19 September 2017
    This coming Friday, Apple is set to release a number of hotly anticipated new products including the iPhone 8, iPhone 8 Plus, Apple Watch Series 3, and Apple TV 4K. Then, in early November, the iPhone hardcore Apple fans are waiting for will finally be released: the iPhone X. But before all those releases roll […]
    Zach Epstein
  • A leak directly from Google confirmed several Pixel 2 details 19 September 2017
    The Pixel 2 is almost upon us, but we still have to wait a couple of weeks for Google to unveil it. The company can’t wait either, as it’s already running ads teasing the new phones as we speak. And the event’s live stream video is already up on YouTube, which shows how much it […]
    Chris Smith
  • Roku slashed the price of its Streaming Stick to $40, but you can still get one for less 19 September 2017
    Roku recent dropped the price of its insanely popular Roku Streaming Stick to $39.99, pricing it exactly in line with Amazon’s Fire TV Stick. That is a truly terrific price for such a great product, giving users access to thousands of streaming content sources accessible through Roku’s awesome UI. But you might not know that […]
    Maren Estrada
  • T-Mobile and Sprint are reportedly talking about a merger… again 19 September 2017
    As the third- and fourth-largest wireless carriers in the United States, T-Mobile and Sprint have been casually chatting about a merger for a long, long time. In fact, it's been going on for so long that something of a cycle has begun to develop, where news breaks that talks are happening, the hype dies down, […]
    Mike Wehner
arsip
kalender
September 2017
M S S R K J S
« Agu    
 12
3456789
10111213141516
17181920212223
24252627282930